Rabu, 27 Februari 2013

Tiba-tiba pengen cerita aja.

Jadi kelas 12, ribet ya. Tes ini itu, tekanan ini itu, beban ini itu (oke itu sama kayak tekanan, whatever lah). Iniiiiii itu kerjanya. Hari ini, H-4 pendaftaran terakhir SNMPTN (menurut aturan sekolah, biar ga overload nanti tanggal 8 Maret). Dan, belum tau mau kemana. Oke, udah tau. Nggak juga deng. Semua pilihan now seems so far away. Ditambah dengan hasil psikotes yang wow-kebanyakan-jurusan-yang-ga-pernah-masuk-itungan-gue. Pengen psikotes lagi tapi nanti jadi makin bingung haha -_- tapi yang itu juga ga bisa dipercaya.

Dan sekarang, gue mendapati diri gue malah nulis-nulis di saat besok TO mtk-b.inggris. Yaudahlah ya andalkan ingatan aja. Capek belajar mulu, jenuh. Mau fokus pelajaran yang dipikirin malah hal laen. Daripada ujungnya ga jelas mending nulis deh, curhat sama notepad atau ms.word atau ms.excel atau apapun yang mau gue tulisin. Butuh banget tempat buat cerita. Tapi manusia ga ada yang available. Atau itu gue yang (pengen) berpikir seperti itu? Kalo iya, oh, betapa bahagianya dengan kemajuan teknologi. Ada komputer, memo di hp, blog, buat tempat berbagi.

Jadi ceritanya, sekarang lagi minggu sibuk. Ga sekarang sih, jauh dari kemaren-kemaren. Pengen kabur ke suatu tempat, berdiam diri jauuuh dari jangkauan, tapi gapunya duit -_- pengen ngumpulin dari bisnis online tapi kok akhir-akhir ini ga ada hasrat buat ngejalanin bisnis. Ga ada hasrat untuk ngapa-ngapain. Main gitar juga cuma metik nada ga jelas, mau nonton ga ada acara menarik (ujung-ujungnya bengong depan tv), mau main komputer tapi pusing.

Pengen deh bertapa di suatu tempat, nenangin diri, ilangin semua pikiran buruk dan hawa negatif.

Dan pertanyaannya, KAPAN?
Kapan ada waktu?

Nanti. Kalo udah selesai SEMUANYA.
Ya, semua. Semua hal.
Gatau KAPAN, hari apa di mana SEMUANYA selesai, jadi apa salahnya berharap hari itu cepat datang?

Senin, 21 Januari 2013

...





So much true.
Oh dear problems, let's just...hmphf :(

Minggu, 20 Januari 2013

Dear, You (part 1)

Hai kamu. Aku tidak bisa mengatakan ini sebuah surat (meskipun aku lebih suka begitu), karena itu apapun ini terserah kamu menganggapnya. Yang terpenting adalah, ini untukmu. Ya, kamu. Perlu kuulangi? Kamu. Tempatku berilmu. Kamu, dengan segala kisah yang telah lalu. Aku tidak dendam padamu, aku hanya ingin bercerita.

Ketika kupikir lagi, apa yang salah? Kamu, hal yang mati.

Kemudian kupikir... semua orang bebas berpendapat, bukan? Kamu bisa menyangkalku, itu hakmu, tapi kamu tidak bisa memaksaku mengubah pemikiranku, karena itu hakku. Oh, aku lupa. Kamu bahkan sudah merampas hakku sewaktu aku masih berguru padamu.

Aku ingin bernostalgia. Mengingat masa-masa tentangku dan kamu. Yang pernah kuukir dengan tinta kehidupanku. Sayangnya, ini nostalgia. Dan jiwaku, masih terbelenggu masa lalu. Masa itu.

Ingatkah kamu akan... ah, hari itu? Hari di mana kamu memenjarai aku dan segelintir teman-temanku.Di saat seharusnya, kamu bisa membanggakan dirimu. Namun yang ada, kamu malah memilih sebaliknya. Ah, kamu memang sangat rendah hati, pujiku pada waktu itu. Tapi tahukah kamu, aku dan mereka, menahan sakit? Alasanmu memang masuk akal, tapi kurasa, kamu tak perlu sampai sekejam itu. Aku dan mereka ingin maju, tapi kamu malah menahan. Aku dan mereka ingin bergerak, tapi kamu malah mengikat. Demi satu hal, demi urusan sebelah kepala. Untuk apa berkembang bila hanya sebelah kepala? Mengapa aku, dan segelintir teman-temanku, tidak diperbolehkan melakukan apa yang seharusnya bisa menjadi, kuulangi, kebanggaanmu?

Dan kamu pikir, cukup sampai di sini? Ohoho, aku tidak bisa berhenti. Intrikku denganmu sepertinya tidak hanya itu. Aku berjuang keras menjadi yang kau inginkan, tapi apakah kamu menghargai aku?

Ah, sudahlah. Lupakan itu. Aku tidak bermaksud bertanya atau menuntutmu. Kukatakan sekali lagi, aku hanya ingin bercerita. Maaf saja, bila aku terdengar memaksakan pernyataan darimu. Mari kita kembali bernostalgia.

Aku pun teringat, ketika aku mengeluarkan air mataku. Untukmu.
Percayakah kamu? Ha-ha-ha. Mungkin kamu malah akan menertawainya. Menganggap remeh kata-kataku. Atau kalau kamu menanggapinya, kamu mungkin tidak mengacuhkan tangisanku. Ya, itu memang sudah lalu. Kamu, dengan segala keegoisanmu. Masih jelas di benakku, ketika kamu mengacuhkanku. Oh, atau aku salah menangkapnya. Kamu tidak mengacuhkanku, kamu hanya sibuk. Tapi dengan kesibukanmu, seolah pesanku terabaikan. Tak tersentuh oleh rasa kepedulianmu. Yang kamu pikirkan, hanyalah mereka. Untukmu sendiri saja. Dan pada akhirnya, harus aku sendiri yang menyelesaikannya. Tapi dari sini, aku memahami satu hal. Kamu bukan orang yang sangat peduli.

Ah iya. Kamu kan sibuk. Dengan urusanmu. Tapi, ingatlah. Aku punya hak untuk bertanya padamu, meminta padamu. Meminta akan hakku, yang dulu kamu abaikan meski sekarang, aku perlahan bangkit dan menyusun sendiri pecahan yang kini tersebar kemana-mana sambil berdoa, semoga masih ada harapan di ujung sana.

Namun setelah aku memikirkannya lagi, di mataku kamu juga sosok yang perhatian. Memedulikan semua yang kamu asuh. Perlahan-lahan dituntun, dengan tekad bahwa semua yang kamu asuh harus baik-baik saja dan ada dalam jarak pandangmu. Kamu mengagumkan, dalam sisi itu. Dari sudut pandang ini. Tenang saja, kebaikanmu selalu kusimpan dalam hati. Aku jamin, selalu abadi.

Ha-ha-ha. Apakah kata-kataku berlawanan? Maklumlah, aku memikirkannya di setiap masa. Di setiap kala, memikirkan tentangmu. Kamu risih? Tidak apa-apa. Biarlah yang tak bisa terucap lewat kata, tersampaikan lewat tulisan saja. Berharap semoga kamu membacanya, di sela-sela waktu sibukmu.

Mungkin, tulisan ini (surat ini, pikirku) tidak begitu berharga di matamu. Tapi percayalah, setiap kata yang kutulis, adalah hasil pemikiranku dan bentuk kepedulianku untukmu. Berkembanglah, wahai kamu. Hidupmu masih akan panjang. Begitu juga hidupku. Mari kita, bersama-sama, berkembang. Apapun yang telah terjadi, aku yakin ini yang terbaik dari Yang Maha Kuasa.

Sudah kubilang bukan? Aku hanya ingin bercerita.


Dariku, yang selalu menginginkan perhatianmu.
20/01/2013  00:06

Sabtu, 06 Oktober 2012

Sepotong Kisah

      “Adrianna.”
      Aku terdiam. Kalau Kakek sudah memanggilku begitu, pasti ada sesuatu. Aku menoleh. Dan benar saja, Kakek sedang menatapku tajam. Haruskah aku yang pertama dieksekusi kali ini?
      “Kamu masih pacaran sama laki-laki itu?”
Well, yeah. Seharusnya aku sudah tau apa yang akan dibahas. Kakek masih menentang hubunganku dan Brian.
      “Iya, Kek, kenapa?” Dengan berani kucoba mengimbangi nada bicara Kakek yang sedingin es itu.
      “Kakek rasa kamu nggak perlu tanya. Kamu tahu apa yang Kakek maksud, kan? Kamu—”
      “Soal perjodohan itu?” Aku menyela. Aku tahu, ini memang tidak sopan (sangat, bahkan) dan para sepupuku serta merta menoleh tajam ke arahku dengan pandangan ‘Oke-Adrianna-lo-sangat-nekat’.
      Melihat Kakek yang diam saja tapi masih dengan tajam menatapku, aku melanjutkan, “Aku udah pernah bilang sama Kakek, aku nggak suka dijodoh-jodohin, Kek. Aku nggak mau ngabisin hidupku sama orang yang nggak kukenal. Kakek memaksa, percuma aja, karena aku mungkin bakal kabur dan mengacaukan pesta pertunangan—”
      Bukk!! Enno menendang kakiku di bawah meja. Aku menoleh, hendak mendampratnya dengan sejuta makian karena membuat kakiku mati rasa sesaat, tapi kemudian mulutku dikunci oleh tatapan elangnya dan mulut penuh racunnya yang berkata pelan dan lambat-lambat, “Elo bakal mati, biyotch.”
      Aku melongo. Mulut Enno memang harus disekolahkan lagi, kurasa, tapi kata-katanya kali ini benar-benar membuatku berpikir bahwa aku harus menata kembali pola pikirku. Apakah kata-kataku segitu keterlaluannya?
      “Ehem!” Kakek berdeham. Aku mengalihkan perhatianku dari Enno dan kembali menatap Kakek. Enno juga, kembali menghadap Kakek.
      “Kalau begitu maumu, Kakek rasa Kakek harus mengambil keputusan yang tegas. Tinggalkan pria itu, atau pria itu yang nanti akan meninggalkanmu.”
      Aku tersentak. Oh no, jangan bilang Kakek bakal....
      “Maksud Kakek?” Shit. Kenapa dari sekian juta macam pertanyaan, harus itu yang keluar dari mulutku?
      “Kakek rasa kamu nggak perlu tanya lagi, Adrianna. Pernyataanmu tadi sudah cukup membuat Kakek berpikir ulang tentang hubunganmu dengan laki-laki itu...” Kakek terdiam sesaat untuk menyesap teh hijaunya. “Rapat selesai. Kalian, bubar.” 
      Kakek berdiri dan meninggalkan meja.
      Aku terkejut. Sontak, aku berdiri sambil menggebrak meja, dan berlari mengejar Kakek. “Tunggu! Kakek!!”
      Perhatianku tiba-tiba terhalang tiga sosok besar berjas hitam. “Maaf Nona, Tuan meminta kami mengamankan Nona.” Oh, siapa lagi kalau bukan ajudan Kakek?
      “Diamankan? Hei, aku juga penghuni rumah ini! Aku cucunya majikan kalian! Kakek mau apa?!” Double shit. Tiga orang ini benar-benar mencengkeram erat pundak dan lenganku.
      “Kami tidak tahu Nona, tapi Nona harus diamankan.”
      Dalam satu gerak, tiga orang itu mengangkatku dan membawaku menjauh dari ruangan itu. Samar-samar, kulihat Enno berdiri di depan pintu sambil mengucapkan sesuatu dengan lambat-lambat, persis seperti yang dilakukannya di ruang neraka tadi.
      “Say goodbye to Brian, dear.”
      Aku merasakan sesuatu yang tajam dan tipis menusuk kulit lenganku. Berikutnya, semuanya menjadi gelap.


vme
06.10.2012 | 14:09

Sabtu, 15 September 2012

Tujuh Belas

17. Di hari ke-22 bulan kemarin.

Selamat.ulang.tahun.

Selamat bertambah umur untuk ke-17 kalinya. Selamat menambah beban di usia yang (katanya) adalah pintu menuju kedewasaan.

Masih ada yang harus diperbaiki. Masih ada yang belum menunjukkan kedewasaan. Ya, semuanya butuh proses. Semua butuh koreksi. Semua nggak bisa terjadi dengan benar semuanya.

Karena itu, di sinilah ia berdiri. Di sinilah ia, yang bertambah umurnya, harus berpikir ulang, apa yang telah ia perbuat selama 17 tahun di belakang. Harus mendata, apa yang tak pantas dilakukan selama 17 tahun kemarin. Harus membuat resolusi, apa yang harus dilakukan ke depannya. Apa yang harus diperbaiki, untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Karena Tuhan sudah memberikan kesempatan untuk melewati angka 17.
Karena Tuhan sudah memberikan rezeki dan hikmah di usia yang berubah dari 16 ke 17.
Karena Tuhan sudah menyiapkan rencana untuk waktu setelah 17 tahun.

Karena itu, ia, si pemilik usia 17, harus merubah pola pikirnya.
Pola pikir yang disadarinya kurang benar, karena selama ini ia hanya melihat diri sendiri. Pola pikir yang ternyata disadarinya kurang benar, karena selama ini ia hanya mementingkan diri sendiri. Pola pikir yang menuntutnya untuk berbuat kurang terpuji.
Semua itu selayaknya diubah.

Seharusnya bukan karena sudah berumur 17 tahun. Seharusnya sudah dari dulu ia berubah menjadi lebih baik. Mengapa ia baru sadar di saat ini? Dan si pemilik umur 17 hanya berpikir satu jawaban: "Karena 17 spesial."
Di usia 17, membuat kartu kependudukan, membuat surat izin kepengendaraan, membuat segala-galanya kebanyakan berawal dari: minimal 17 tahun.

Karenanya, 17 dianggapnya spesial. Tangga menuju kedewasaan. Di bulan kedelapan itu, ia memutuskan untuk menjadi lebih baik. Harapan, resolusi, doa, segala cara harus ia coba untuk berubah. Bermimpi pun, ia lakukan.



"God gave us the gift of life; it is up to us to give ourselves the gift of living well."
- Voltaire

"Real birthdays are not annual affairs. Real birthdays are the days when we have a new birth"
- Ralph Parlette



Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih, Voltaire, Ralph Parlette, dan semua orang pencetus quote-quote inspirasional.


vme
15.09.12  | 11:07
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Follow

About me

What's Hot

You're The...

My Other Blog

  • My Seoul Escape - *Pengarang:* Sophie Febriyanti Penerbit: GagasMedia *Tahun:* 2008 *Tebal:* 260 halaman *Hidup Ayunda hancur lebur saat Cello, kekasih yang sangat dia...
    10 tahun yang lalu

Pages

Popular Posts

 

Template by BloggerCandy.com