Tampilkan postingan dengan label happy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label happy. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Psikotest


Setelah bergalau ria ingin masuk mana, akhirnya gue memutuskan ikut psikotest yang bertujuan menentukan minat dan bakat. Adanya di Lembaga Psikologi Terapan UI, Salemba. Diadakan 2 kali sebulan. Setiap Kamis minggu kedua dalam bulan itu, dan hari Minggu terakhir bulan itu. Gue ikut yang Minggu terakhir, which means, kemarin tanggal 24 Juni.


Tesnya dimulai jam 9 pagi. Awalnya dikasih lembaran isi keterangan data diri, sekolah dimana, umur, berat, tinggi, pelajaran fav, data keluarga, blablabla pokoknya bisa deh lo isi sendiri.

Daaaan, memasuki tes pertama, gue nyadar kalo salah BANGET. Kenapa? Karena gue nggak sarapan. Oke, gue sarapan sih, tapi cuma roti dan susu, dan itu jelas nggak cukup—mengingat ternyata tesnya itu buanyaaak banget dan butuh kerja keras otak! Sakit hati nginget perut gue keroncongan—sampe gue harus setengah mati gak konsentrasi demi menyembunyikan desis perut—di tengah-tengah pengerjaan padahal masih one hour and half to go till break time!! Argh! Mana breaknya juga cuma sekali, jam setengah 1.

Gue ga akan ngejabarin tesnya satu-satu ya, hehe, soalnya ntar ketahuan dong tesnya kayak apa. Intinya aja lah ya. Pokoknya tesnya itu ada tes deret angka, gambar ini-itu, itung-itungan, pengetahuan verbal, umum, dan banyak deh.  Ada sekitaran 10an tes. Mungkin lebih kali, belasan. 

Saran aja. Makan dan tidur yang cukup. Ini soal-soalnya menguji mental banget. Alurnya : dibagiin tes A, kerjain, selesai, kumpulin, lalu dikasih lagi tes B, kerjain, waktu habis, kumpulin, dikasih lagi tes C. Gituuu terus sampe mampus dari jam 9 sampe selesai jam 4 sore.

Ah ya. Saran lagi: bawa temen. Serius, bakal bosen banget nunggu break dan nggak ada temen buat haha-hihi. Yaa walaupun nggak ditempatin di kelas yang sama (karna nama-namanya diacak, gak sesuai nomor urut pendaftaran).

Dan ohya, sekadar info lagi, hasil tesnya diambil sebulan setelah tes.


Buat yang tertarik psikotest ini, silakan dicoba :
Lembaga Psikologi Terapan UI : 3145078 / 3907408 / 3908995


PS : Ini bukan ngiklan sih, cuma share aja. Untukmu, yang sedang menggalaukan passion-mu :)

Minggu, 01 April 2012

Gramedia's 38th Birthday


TRIIIINGG! TRIIINGG!!
Bel sekolah SMA Nusantara Bakti berbunyi nyaring. Bel tersebut menandakan kegiatan belajar berakhir. Itu artinya, saat yang ditunggu-tunggu para siswa karena mereka akan segera meninggalkan kepenatan akan pelajaran.
Di kelas 11 IPA 2, tampak Ririn sedang membereskan barang-barangnya. Tak sengaja ia melihat Ika, sahabatnya, yang rupanya sudah hendak keluar kelas.
"Ika! Mau kemana?" seru Ririn memanggil Ika.
"Gue? Gue mau ke Gramedia nih, nyari peralatan buat pelajaran Seni Rupa besok. Yang dibutuhin banyak, 'kan?"
"Oh iya! Gue juga lupa!" Ririn menepuk dahinya. "Gue ikut deh, Ka. Tunggu gue!"
Ririn beranjak dari kursinya, merapikan buku-bukunya dan menyusul Ika. Kemudian mereka pun berjalan menuju gerbang sekolah sambil membicarakan pelajaran Seni Rupa besok. Ketika mereka hampir mencapai gerbang, mereka bertemu Gilang dan Hani, teman sekelas mereka, yang tampak terburu-buru. Sayup-sayup, Ririn dan Ika mendengar pembicaraan mereka.
"Ih, santai dikit kenapa sih, Han?" gerutu Gilang sambil berjalan cepat. Langkahnya berusaha menjajari langkah Hani, yang tak disangka walau bertubuh kecil tapi langkahnya cepat juga.
"Gue nggak bisa nyantai gitu aja, Lang, kesempatan ini nggak boleh disia-siain!" balas Hani sambil menarik lengan seragam Gilang. "Ayo cepetan!"
Hani hampir saja menubruk Ririn kalau Ririn tidak menghindar duluan.
"Wes, hati-hati, Han!" tegur Ika.
Hani menoleh. "Eh? Kenapa?"
"Tadi lo hampir nabrak gue. Ada apa sih? Kok daritadi gue lihat lo sama Gilang kayaknya buru-buru banget. Ada urusan yang penting ya?" tanya Ririn penasaran.
"Iya, Rin, urusan yang penting banget! Penting sumpah!" seru Hani menggebu-gebu.
"Ada apaan sih?" Ika ikut penasaran.
"Gini lho, Rin, Ka. Si Hani ini pengen banget ke toko buku Gramedia. Mumpung ada diskon!" Gilang menjelaskan.
"Hah?! Diskon??!!" Ririn dan Ika berteriak bersamaan, lalu melongo kaget dan bengong.
"Iya, diskon! Jadi gini, kemaren itu, tanggal 25 Maret, Gramedia ulangtahun yang ke-38! Bayangin, 38 tahun! Bukan umur yang singkat loh itu. Nah, untuk ngerayain ulangtahunnya, Gramedia ngasih hadiah diskon 38% untuk 38 judul buku Gramedia tertentu, diskon 25% untuk semua buku terbitan Gramedia, dan tambahan diskon 10% untuk pengguna kartu kredit BCA, Flazz BCA, BCA Xpresi & Kompas Gramedia Value Card!” Hani menjelaskan dengan suara menggebu-gebu. Ia tampak bersemangat sekali. “Oh ya, jangan lupa. Buku yang didiskon, harus ada logo ‘Gm’-nya di pojok kanan atas!”
“Wow!! Gila, keren banget! Sampe kapan itu diskon, Han?” tanya Ika antusias.
“Sampe tanggal 1 April 2012! Makanya, mumpung sekarang masih tanggal 27 Maret, gue harus cepet-cepet kesana. Gue nggak mau ketinggalan!” Hani mengeluarkan notes dari saku roknya. “Soalnya, banyak banget buku incaran gue nih. Harus dimanfaatkan, iya nggak?”
Ririn melirik isi notes Hani. “Wow, keren juga lo Han! Eh iya, gue sama Ika juga mau ke Gramedia, barengan aja yuk!”
“Oh ya? Mau ngapain?”
“Tadinya sih... Mau beli perlengkapan buat pelajaran Seni Rupa besok. Tapi setelah dipikir-pikir, gue masih punya sebagian kok di rumah. Jadi ya...” Ika melirik Ririn yang sedang tersenyum, memikirkan hal yang sama dengan dirinya, “nggak usah beli dulu, minjem yang lain aja...”
“Terus? Sekarang ke Gramedia ngapain?” Gilang mengangkat alis sambil tersenyum.
Ririn dan Ika berseru bersama, “Ya belanja buku dooooong!!!”




Happy 38th birthday Gramedia~
Pokoknya, wish you all the best! Tetap jadi penerbit yang nomer satu, terdepan, dan ramah ke para pembacanya + followersnya (di Twitter, hehe)~


-vme-

Senin, 12 Maret 2012

Negeri 5 Menara


Oke ini telat banget, tapi karena berbagai hambatan jadilah baru menulis sekarang.

Suatu hari temen gue yang berinisial HA dapet tiket nonton bareng (nobar) via twitter majalah kaWanku (@onyitkawanku). Nobar apa? Nobar film Indonesia yang lagi hot-hotnya : Negeri 5 Menara. 


Gue udah pernah denger sih tapi, jujur, sama sekali ga berniat nonton. Tapi kalo ada yang ngajak, ayo aja. Balik ke masalah tiket gratis, si HA ini ga bisa dateng ke nobarnya itu dan dia menyerahkan tiket itu ke gue. Gue sebagai temen yang baik, ga nyia-nyiain itu tiket, menerima dan menawarkan pada orang-orang yang mau menemani gue nonton (karna tiap pemenang dapet 4 tiket, gue bisa ngajak 3 orang temen). Setelah pergumulan via sms dan bbm, akhirnya Chika dan Naudi mau nemenin gue di hari Sabtu, 3 Maret 2012.

Tentang filmnya, gue beneran clueless tentang film ini. Yang gue tau, film Negeri 5 Menara ini diadaptasi dari novel berjudul sama oleh Ahmad Fuadi. Di covernya bernuansa ke-oranye-an, ada 5 bangunan yang terkenal. Monas, Washington Monument, Big Ben, Al Azhar University, dan Masjid Al Haram. Itu aja yang gue tau (itupun yang Al Azhar dan Masjid Al Haram gara-gara dikasi tau temen). Sisanya, ceritanya gimana dan siapa aja tokoh/pemainnya di film, asli ga tau.

Kemudian, teaternya udah dibuka dan kita masuk dengan sistem free seat. Sebelum film dimulai, ada bagi-bagi hadiah nih. Kita disuruh ngecek bawah kursi, ada 5 hidden gift yang tersebar. Uh, faktor ketidakberuntungan, gue ga dapet. Terus ada pertanyaan dari si MC-nya. Nama pemain film pemeran tokoh utamanya siapa, dan apa aja akun twitter majalah kaWanku, Chic, dan Sekar. Dan... ga dapet juga, kalah cepet -_-

Setelah itu, barulah filmnya dimulai...


Negeri 5 Menara menceritakan tentang Alif, anak Padang yang di“minta” orangtuanya bersekolah di Pondok Madani. Walaupun sebenarnya Alif ingin ke SMA di Bandung dan lanjutkan ke ITB, Alif berusaha memenuhi keinginan ibunya. Coba-coba dulu gitu lah. Di sana, Alif berteman akrab dengan Raja, Baso, Atang, Said, dan Dulmajid yang berasal dari berbagai daerah.

Mereka berenam dijuluki Sahibul Menara karena mereka selalu berkumpul di bawah menara Pondok Madani. Dan suatu hari, mereka melihat ke awan dan menebak-nebak awan itu seperti negera impian mereka masing-masing. Alif ke Amerika Serikat, Raja ke London, Baso ke Arab Saudi, Atang ke Mesir, Said dan Dulmajid memilih tetap di Indonesia.


Hari pertama sekolah, seorang guru (lupa namanya) datang membawa bambu dan mulai memotong bambu kayu itu dengan golok. Setelah pergulatan yang cukup berat, guru itu berhasil. Kemudian ia menekankan pada murid-muridnya: “Man Jadda Wajada” yang artinya: “siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil”. Inilah kata-kata yang dibawa keenam sahabat ini.


Sejak itu kehidupan Alif penuh warna. Ia mulai menikmati sekolahnya.
Mulai dari menyemangati Baso belajar bahasa Inggris sampai akhirnya berpidato; dihukum saling menjewer karena terlambat; liburan ke tempatnya Atang di Bandung—di sana bertemu Randai sobatnya di Padang yang merantau ke Bandung; menjadi jurnalis & fotografer di Majalah Syams Pondok Madani; berkenalan dengan Sarah, keponakan Kyai Rais (walaupun akhirnya gagal berfoto bersama Sarah :D).


Bagian yang menggelitik adalah ketika keenamnya berlibur ke kampungnya Atang di Bandung. Mereka bersepeda bersama dan melewati sebuah sekolah khusus wanita. Demi “melindungi diri”, Alif dan Baso menutup mata mereka walaupun saat itu mereka lagi bersepeda. Alhasil, ga liat ada batu dan... jatuh deh, ha ha ha :D

Kemudian penonton dibawa ke kenyataan pahit bahwa Baso harus meninggalkan PM. Neneknya sakit keras dan ia sebagai keluarga satu-satunya, harus merawatnya demi bakti kepada sang nenek yang sudah membesarkannya. Sepeninggal Baso, Alif jadi ikut-ikutan galau, ingin meninggalkan PM dan sekolah di Bandung seperti rencana awalnya. Apalagi ibunya udah mengijinkan. Bahkan ia menekankan—pada keempat sahabatnya ketika ditanya apa ia ingin ikut-ikutan Baso—bahwa ia memang dari awal tidak mau sekolah di PM. Aduuuh si Alif -_-

Tapi pada akhirnya, Alif tetap tinggal di PM. Lalu demi Baso, mereka berlima meneruskan usaha Baso menggalang anak-anak seangkatan untuk mementaskan Ibnu Batutah. Di sini deh, puncaknya. Kesolidaritasan mereka benar-benar menusuk ke tulang. Dari rencana pementasan, belanja barang-barang yang diperlukan, latihan drama, sampai ke pementasan akhir... Top banget! Iringan musik juga terasa menggetarkan, menghidupkan pementasan mereka.

Kemudian, ending menunjukkan keenam sahabat ini berhasil mencapai cita-citanya. Alif, Raja, dan Atang bertemu di Trafalgar Square, London. Lalu menghubungi ketiga temannya di Indonesia.

Man Jadda Wajada :)


* * *

Inspirasional.

Menurut gue film ini cocok buat semua umur. Apalagi remaja, yang lagi galau-galaunya pengen masuk jurusan mana/kuliah di mana. Kita bisa tau gimana galaunya Alif, antara milih keputusan orangtuanya atau tetep keukeuh sama pendiriannya. Dan akhirnya, Alif milih ngikut orangtua. Kalo emang ga cocok, barulah si Alif ikut kemauannya (mungkin gue harus ikutin cara si Alif kali ya duuuh).

Terus, solidaritas keenam tokoh ini yang begitu erat. Persahabatan yang ga putus walau sudah merantau ke negeri orang. Tapi sayangnya, eksekusi ending agak kurang kali ya. Begitu saja dan terjadinya cepat. Tau-tau aja, udah di London dengan segala keberhasilan mereka.Tidak diceritakan gimana berhasilnya mereka. Uh oh, atau itu akan diceritakan di sekuelnya?


Tapi overall, filmnya oke kok. Jadi pengen nonton sekuelnya: Ranah 3 Warna.


Man Jadda Wajada!

Selasa, 03 Januari 2012

Saman Performance


Hello !

Setelah mengalami kemunduran atas *ehem* Peristiwa 2 Desember (jangan tanya itu apa karna hanya gue dan segelintir orang yang tahu), Srikandi SMAN 39 muncul kembali di pembukaan acara Humaniora Festival, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, 29 Desember 2011.


Kali ini Srikandi diundang sebagai pengisi di pembukaan acaranya.
Howowowow! Persiapan pun dilakukan dengan agak tergesa-gesa. Karna stula tanggal 19-23 Desember yang lalu, kami jadi agak kelabakan karena mau gak mau latihan dimulai tanggal 25 (buat yang Kristen/Katolik ada dispensasi—yaiyalah).

Trus dengan segala macem masalah ngaret pas latian, males-malesan, capek, dan lain-lain akhirnya... Tanggal 29 datang.


Dan kami tampil. Oh ya, kemajuan untuk Srikandi angkatan gue, karena... (akhirnya!) kami semua nyoba untuk memakai make-up sendiri, totally sendiri tanpa campur tangan tangan-tangan lain. Oke, emang ada beberapa bantuan entah bantuin ngeratain bedak, ngelurusin eyeshadow, tapi kami murni mencoba sendiri. Dan hasilnya, well, menurut gue gak buruk-buruk amat kok. Soalnya emang pernah dandan sendiri sebelum ini tapi sebelum-sebelumnya masih banyak bantuan dari tangan-tangan lain. Khususnya Exist-Yohana, duo yang keren banget kalo urusannya dandan. Dan mereka emang dandan sendiri, ga pake minta orang lain meski kemaren-kemaren suka ada orang dewasa (baca: ibu-ibu) yang mendampingi.


Suatu kemajuan yang lain, ga ada yang baju, songket, kerudung, dst yang berantakan pas sampe di tujuan. Biasanya kan, suka ada yang lepas-lepas lah, mendadak longgar, atau apalah itu yang bikin kostumnya berantakan. Hohoho!


Srikandi tampil di... alah gue lupa nama gedungnya apa, pokoknya buat pembukaan HI Fest gitulah. Agak gugup karna di panggung berseliweran kabel-kabel. Takutnya keselimpet (?) eh malah mengganggu performance *halah*

Oh ya mana gue pake ikat kepala ga bener banget. Oke, pas di lagu awal gue yakin bener-bener aja, tapi pas udah di bagian akhir-akhir, itu iket kepala melorot semelorot-melorotnya melorot (untung ga jatoh! Fiuh!)



Yeah... The main point is, this is our second performance, OUTSIDE our lovely school. And guess what, we got a... something like a charter (?) or a certificate—dunno, but yeah, let’s just say like that. Emm, should we give it to our lovely Mr. Pup? (the name is company’s secret)


Oh ya, lelaki yang berbaju putih di foto di atas adalah SYEH kami, Bang Fikar. Suaranya... euh, menawan!
 
 
 
SEMANGAAAAAT !!
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Follow

About me

What's Hot

You're The...

My Other Blog

  • My Seoul Escape - *Pengarang:* Sophie Febriyanti Penerbit: GagasMedia *Tahun:* 2008 *Tebal:* 260 halaman *Hidup Ayunda hancur lebur saat Cello, kekasih yang sangat dia...
    10 tahun yang lalu

Pages

Popular Posts

 

Template by BloggerCandy.com