Minggu, 06 Mei 2012

Next Surprises

Sudah tujuh kejutan terjadi sampai tanggal 18 bulan April. Masih ada kejutan? Wow, ayo lanjutkan.


Kejutan kedelapan datang di hari Minggu malam tanggal 22. Badan meriang, super duper nggak enak. Semaleman menuju hari Senin itu sama sekali bukan malam yang diharapkan. Pusing, berasa diteken kepalanya dari kiri dan kanan. Nggak bisa tidur. Cuma tidur 30 menit, bangun lagi, tidur lagi 30 menit, bangun lagi. Begitu terus sampe pagi. Dan paginya, badan panas padahal AC jelas-jelas dingin. Fiuh, alamat nggak masuk sekolah.

Dan itu berlangsung sampe seterusnya ketika demam mencapai 39,1 derajat. Ke klinik, dikasih obat dan semacamnya. Heck, obatnya banyak banget. Bikin mual.

 

Kejutan kesembilan datang di tanggal 26, ketika keadaan sudah membaik. Pernah cerita kan sebelumnya kalo gue ikut giveaway? Yep, gue menang 3 giveaway—which means bakal dapet sekitar... em, 5 buku baru. Yey! Puji Tuhan. Lumayan nggak usah keluar uang, uangnya ditabung \:D/




Kejutan kesepuluh adalah ketika akhirnya (dikira) sudah mulai membaik, eh sakit malah meradang di hari Jumat. Ruam-ruam merah layaknya campak itu mulai muncul lagi. Sabtu pagi, periksa ke rumah sakit akhirnya. Kata dokternya, kayak flu Singapura. Lagi jaman katanya. Disuruh deh cek darah. Dan great, hasilnya: gejala DBD dan tipes + campak. Trombosit turun, harus dirawat di rumah sakit. GREAT!

Awalnya biasa aja, ternyata nggak... karna jarum-jarum itu pun mulai bermunculan. Entah yang buat infus lah, atau antibiotik ini itu.




Kejutan kesebelas adalah ketika 5 teman datang berkunjung ke rumah sakit—Ayu, Bella, Brenda, Chika, Nadia—di saat hujan badai menerpa Jakarta. Wow, you rock, girls! Mereka dateng buat ngobrol, sambil ngeringin sepatu, hahaha :D. Tapi thank you so much much much kawan, keadaan gue membaik setelah kalian datang :)
Bener deh ya, temen tuh emang mood booster.



Kejutan keduabelas datang dari seorang suster di rumah sakit. Hari Selasa pagi, sehari setelah kunjungan 5-teman-yang-menantang-hujan-badai. Kata susternya, boleh pulang karna trombositnya udah normal. Yey! Langsung bokap ngurus ini itu—well, gue nggak ngerti deh—sementara gue nunggu sambil tidur-tiduran.

Dan finally... Goodbye hospital. Home, I'm gonna meet you :)
Siangnya, gue balik ke rumah.  Home sweet home! Serius deh, biar rumah gue seberantakan dan seminim apapun, tetep aja ngangenin.



Kejutan ketigabelas datang di hari yang sama. Sorenya, sempet ke rumah Opa sebentar. Trus dari BBM Memet, katanya anak Osteon (XI IPA 5, kelas gue) pada mau ke rumah. Kaget lah, wong gue ga ada di rumah. Trus disuruh pulang sama bokap sekalian istirahat. Dalam hati cemas gitu, takutnya Osteon udah nyampe trus pulang.

Ternyata nggak. Ternyata pas gue nyampe rumah, mereka juga pas nyampe rumah. Bergerombol naik motor, layaknya geng motor gitu.
Dan mereka... berlimabelas, ngumpul di depan rumah, makan cemilan sambil ngelawak. Bikin gue ngakak, dan puji Tuhan, pusingnya sedikit berkurang. Tuh kan, temen emang mood booster!


Kejutan keempatbelas adalah ketika... buku giveawaynya sampe! Good Fight-nya Christian Simamora, sukses menghiasi 2 hari gue ke depan! Omg, itu bacaan yang light dan fun banget, fyi. Aih, bikin degdegan, walaupun itu rated dewasa. Yang bikin degdegan tapi justru bukan adegan yang, err, dewasa. Pokoknya... bacaan yang fun!



Dan kejutan terakhir, kejutan kelimabelas, datang di hari Sabtu, ketika gue mendata tugas-tugas apa aja yang ketinggalan selama gue nggak masuk sekitaran seminggu. Dan guess what, ada 12 tagihan yang mesti gue kejar. W-t-heck. Great! Sebenernya biasa aja, tapi yang paling nggak banget-banget-banget adalah: tes formatif Fisika. Super duper great!



Oh God, please help :"




Dan.... Lima belas kejutan di bulan April. Wow. Seperti apakah bulan Mei? 



-vme-

Rabu, 18 April 2012

Surprise — and Life


Kejutan bertubi-tubi.

Pertama dateng dari pengumuman #GPU38 dalam rangka ulangtahun Gramedia. Bahwa gue termasuk salah satunya. Huft, bisa juga ternyata dengan video pas-pasan yang selesai + uploadnya di saat-saat terakhir. Seneng? Banget. Pengen rasanya teriak pas baca daftar nama pemenangnya. Bukan pemenang utama, but still, glad to be one of the 38 winners. Seneng rasanya mendapati bahwa, usaha sebanding hasil. Yay. Tapi sayang ga bisa teriak-teriak karena pas itu udah malem dan... Nggak mau kan diomongin tetangga karena malem-malem bikin keributan?



Kejutan selanjutnya datang ketika seorang teman ingin membeli flashdisk jualan teman kakak gue. Reseller gitu deh. Dan, huft betapa senengnya memegang hasil jualan sendiri. Walaupun nggak seberapa, lumayan untuk menambah tabungan gue.

 
Kejutan ketiga datang ketika di-invite lagi ke 2 grup online fashion shop, dan baju-bajunya lucu bangeet, nggak kuat beneran. Sampe bertekad nabung demi beli baju-baju lucu itu, sampe bikin daftar yang mana aja yang jadi incaran dan mau dibeli. Sampe minta pendapat temen-temen yang bagus yang mana, mending yang A atau B, dst. Dan guess what, ketika akhirnya punya cukup uang dan pengen banget beli satu atasan cute, ternyata baju itu udah tutup PO (pre order)-nya.

Sedih? Banget. Niat untuk beli baju online langsung hancur seketika, digantikan keinginan untuk shopping gila-gilaan di Mangga Dua atau di PGC someday. Inget, nabung dulu. Dan someday, akan jadi seperti ini.



Kejutan keempat datang ketika temen kakak gue si penjual flashdisk jadi kontak di BBM dan dia ngirimin foto flashdisk yang banyaaaak bangetbangetan dan super lucu. Sampe pengen banget punya semua flashdisk itu. Dan dengan gambar-gambar yang lucu itu, seorang teman membeli lagi. Hm. Lebih dari lumayan. Thank God.




Kejutan kelima datang ketika seorang teman menyodori list favoritesnya akun @BBI_2011. Begitu banyak blog buku yang ngadain giveaway dalam rangka memeriahkan ulangtahun Blog Buku Indonesia (BBI) tanggal 13 April 2012 yang lalu. Langsung gue cao ke depan laptop dan ikutan berbagai macam giveaway itu. Dalam hati harap-harap cemas.



Kejutan keenam dateng dari temen gue juga, yang menyodori sebuah tweet dari akun @fiksimetropop bahwa adminnya akan membagikan 30 buku di 30 hari kerja dalam rangka kuis #SiapaCepatDiaDapat yang bakalan dimulai Rabu tanggal 18. Jumpalitan gue, memaksa sang teman ikut kuis itu gimanapun caranya. Harus.





Kejutan ketujuh dateng pas malem Selasa. Lagi sibuk-sibuknya bantu tante gue nyiapin ini-itu untuk acara penghiburan di rumah Opa, orangtua datang membawa paket berlabel Gramedia. Waw. Apa ini hadiah dari #GPU38 itu? Langsung gue buka, dan mendapati buku Been There Done That Got The T-Shirt dan Catatan Ichiyo: Perempuan Miskin Di Lembar Uang Jepang. Keliatannya bukan termasuk genre yang selama ini gue baca, tapi nanti toh gue baca juga. Gimanapun, buku itu sumber ilmu, bukan?





Tujuh kejutan sampai di hari ke-18 bulan April. Banyak kejutan lain sebenarnya, yang mungkin luput dari perhatian gue.. Atau gue tidak berpikir bahwa itu juga kejutan. Karena sebenarnya, masih bisa terbangun di pagi hari dan menghirup udara segar saja sudah merupakan kejutan dari hadiah indah dari Yang Maha Kuasa.

Beautiful life, isn't it? Only if you appreciate every second of life and try to live it lively.





- vme –

Minggu, 01 April 2012

Gramedia's 38th Birthday


TRIIIINGG! TRIIINGG!!
Bel sekolah SMA Nusantara Bakti berbunyi nyaring. Bel tersebut menandakan kegiatan belajar berakhir. Itu artinya, saat yang ditunggu-tunggu para siswa karena mereka akan segera meninggalkan kepenatan akan pelajaran.
Di kelas 11 IPA 2, tampak Ririn sedang membereskan barang-barangnya. Tak sengaja ia melihat Ika, sahabatnya, yang rupanya sudah hendak keluar kelas.
"Ika! Mau kemana?" seru Ririn memanggil Ika.
"Gue? Gue mau ke Gramedia nih, nyari peralatan buat pelajaran Seni Rupa besok. Yang dibutuhin banyak, 'kan?"
"Oh iya! Gue juga lupa!" Ririn menepuk dahinya. "Gue ikut deh, Ka. Tunggu gue!"
Ririn beranjak dari kursinya, merapikan buku-bukunya dan menyusul Ika. Kemudian mereka pun berjalan menuju gerbang sekolah sambil membicarakan pelajaran Seni Rupa besok. Ketika mereka hampir mencapai gerbang, mereka bertemu Gilang dan Hani, teman sekelas mereka, yang tampak terburu-buru. Sayup-sayup, Ririn dan Ika mendengar pembicaraan mereka.
"Ih, santai dikit kenapa sih, Han?" gerutu Gilang sambil berjalan cepat. Langkahnya berusaha menjajari langkah Hani, yang tak disangka walau bertubuh kecil tapi langkahnya cepat juga.
"Gue nggak bisa nyantai gitu aja, Lang, kesempatan ini nggak boleh disia-siain!" balas Hani sambil menarik lengan seragam Gilang. "Ayo cepetan!"
Hani hampir saja menubruk Ririn kalau Ririn tidak menghindar duluan.
"Wes, hati-hati, Han!" tegur Ika.
Hani menoleh. "Eh? Kenapa?"
"Tadi lo hampir nabrak gue. Ada apa sih? Kok daritadi gue lihat lo sama Gilang kayaknya buru-buru banget. Ada urusan yang penting ya?" tanya Ririn penasaran.
"Iya, Rin, urusan yang penting banget! Penting sumpah!" seru Hani menggebu-gebu.
"Ada apaan sih?" Ika ikut penasaran.
"Gini lho, Rin, Ka. Si Hani ini pengen banget ke toko buku Gramedia. Mumpung ada diskon!" Gilang menjelaskan.
"Hah?! Diskon??!!" Ririn dan Ika berteriak bersamaan, lalu melongo kaget dan bengong.
"Iya, diskon! Jadi gini, kemaren itu, tanggal 25 Maret, Gramedia ulangtahun yang ke-38! Bayangin, 38 tahun! Bukan umur yang singkat loh itu. Nah, untuk ngerayain ulangtahunnya, Gramedia ngasih hadiah diskon 38% untuk 38 judul buku Gramedia tertentu, diskon 25% untuk semua buku terbitan Gramedia, dan tambahan diskon 10% untuk pengguna kartu kredit BCA, Flazz BCA, BCA Xpresi & Kompas Gramedia Value Card!” Hani menjelaskan dengan suara menggebu-gebu. Ia tampak bersemangat sekali. “Oh ya, jangan lupa. Buku yang didiskon, harus ada logo ‘Gm’-nya di pojok kanan atas!”
“Wow!! Gila, keren banget! Sampe kapan itu diskon, Han?” tanya Ika antusias.
“Sampe tanggal 1 April 2012! Makanya, mumpung sekarang masih tanggal 27 Maret, gue harus cepet-cepet kesana. Gue nggak mau ketinggalan!” Hani mengeluarkan notes dari saku roknya. “Soalnya, banyak banget buku incaran gue nih. Harus dimanfaatkan, iya nggak?”
Ririn melirik isi notes Hani. “Wow, keren juga lo Han! Eh iya, gue sama Ika juga mau ke Gramedia, barengan aja yuk!”
“Oh ya? Mau ngapain?”
“Tadinya sih... Mau beli perlengkapan buat pelajaran Seni Rupa besok. Tapi setelah dipikir-pikir, gue masih punya sebagian kok di rumah. Jadi ya...” Ika melirik Ririn yang sedang tersenyum, memikirkan hal yang sama dengan dirinya, “nggak usah beli dulu, minjem yang lain aja...”
“Terus? Sekarang ke Gramedia ngapain?” Gilang mengangkat alis sambil tersenyum.
Ririn dan Ika berseru bersama, “Ya belanja buku dooooong!!!”




Happy 38th birthday Gramedia~
Pokoknya, wish you all the best! Tetap jadi penerbit yang nomer satu, terdepan, dan ramah ke para pembacanya + followersnya (di Twitter, hehe)~


-vme-

Sabtu, 24 Maret 2012

Rest In Peace



Farewell, Grandmother. Hope you are happy with all those burdens released, without having to struggle anymore. Hope you are accepted in His side. Amen.





“Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live.”
— Norman Cousins



Senin, 12 Maret 2012

Negeri 5 Menara


Oke ini telat banget, tapi karena berbagai hambatan jadilah baru menulis sekarang.

Suatu hari temen gue yang berinisial HA dapet tiket nonton bareng (nobar) via twitter majalah kaWanku (@onyitkawanku). Nobar apa? Nobar film Indonesia yang lagi hot-hotnya : Negeri 5 Menara. 


Gue udah pernah denger sih tapi, jujur, sama sekali ga berniat nonton. Tapi kalo ada yang ngajak, ayo aja. Balik ke masalah tiket gratis, si HA ini ga bisa dateng ke nobarnya itu dan dia menyerahkan tiket itu ke gue. Gue sebagai temen yang baik, ga nyia-nyiain itu tiket, menerima dan menawarkan pada orang-orang yang mau menemani gue nonton (karna tiap pemenang dapet 4 tiket, gue bisa ngajak 3 orang temen). Setelah pergumulan via sms dan bbm, akhirnya Chika dan Naudi mau nemenin gue di hari Sabtu, 3 Maret 2012.

Tentang filmnya, gue beneran clueless tentang film ini. Yang gue tau, film Negeri 5 Menara ini diadaptasi dari novel berjudul sama oleh Ahmad Fuadi. Di covernya bernuansa ke-oranye-an, ada 5 bangunan yang terkenal. Monas, Washington Monument, Big Ben, Al Azhar University, dan Masjid Al Haram. Itu aja yang gue tau (itupun yang Al Azhar dan Masjid Al Haram gara-gara dikasi tau temen). Sisanya, ceritanya gimana dan siapa aja tokoh/pemainnya di film, asli ga tau.

Kemudian, teaternya udah dibuka dan kita masuk dengan sistem free seat. Sebelum film dimulai, ada bagi-bagi hadiah nih. Kita disuruh ngecek bawah kursi, ada 5 hidden gift yang tersebar. Uh, faktor ketidakberuntungan, gue ga dapet. Terus ada pertanyaan dari si MC-nya. Nama pemain film pemeran tokoh utamanya siapa, dan apa aja akun twitter majalah kaWanku, Chic, dan Sekar. Dan... ga dapet juga, kalah cepet -_-

Setelah itu, barulah filmnya dimulai...


Negeri 5 Menara menceritakan tentang Alif, anak Padang yang di“minta” orangtuanya bersekolah di Pondok Madani. Walaupun sebenarnya Alif ingin ke SMA di Bandung dan lanjutkan ke ITB, Alif berusaha memenuhi keinginan ibunya. Coba-coba dulu gitu lah. Di sana, Alif berteman akrab dengan Raja, Baso, Atang, Said, dan Dulmajid yang berasal dari berbagai daerah.

Mereka berenam dijuluki Sahibul Menara karena mereka selalu berkumpul di bawah menara Pondok Madani. Dan suatu hari, mereka melihat ke awan dan menebak-nebak awan itu seperti negera impian mereka masing-masing. Alif ke Amerika Serikat, Raja ke London, Baso ke Arab Saudi, Atang ke Mesir, Said dan Dulmajid memilih tetap di Indonesia.


Hari pertama sekolah, seorang guru (lupa namanya) datang membawa bambu dan mulai memotong bambu kayu itu dengan golok. Setelah pergulatan yang cukup berat, guru itu berhasil. Kemudian ia menekankan pada murid-muridnya: “Man Jadda Wajada” yang artinya: “siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil”. Inilah kata-kata yang dibawa keenam sahabat ini.


Sejak itu kehidupan Alif penuh warna. Ia mulai menikmati sekolahnya.
Mulai dari menyemangati Baso belajar bahasa Inggris sampai akhirnya berpidato; dihukum saling menjewer karena terlambat; liburan ke tempatnya Atang di Bandung—di sana bertemu Randai sobatnya di Padang yang merantau ke Bandung; menjadi jurnalis & fotografer di Majalah Syams Pondok Madani; berkenalan dengan Sarah, keponakan Kyai Rais (walaupun akhirnya gagal berfoto bersama Sarah :D).


Bagian yang menggelitik adalah ketika keenamnya berlibur ke kampungnya Atang di Bandung. Mereka bersepeda bersama dan melewati sebuah sekolah khusus wanita. Demi “melindungi diri”, Alif dan Baso menutup mata mereka walaupun saat itu mereka lagi bersepeda. Alhasil, ga liat ada batu dan... jatuh deh, ha ha ha :D

Kemudian penonton dibawa ke kenyataan pahit bahwa Baso harus meninggalkan PM. Neneknya sakit keras dan ia sebagai keluarga satu-satunya, harus merawatnya demi bakti kepada sang nenek yang sudah membesarkannya. Sepeninggal Baso, Alif jadi ikut-ikutan galau, ingin meninggalkan PM dan sekolah di Bandung seperti rencana awalnya. Apalagi ibunya udah mengijinkan. Bahkan ia menekankan—pada keempat sahabatnya ketika ditanya apa ia ingin ikut-ikutan Baso—bahwa ia memang dari awal tidak mau sekolah di PM. Aduuuh si Alif -_-

Tapi pada akhirnya, Alif tetap tinggal di PM. Lalu demi Baso, mereka berlima meneruskan usaha Baso menggalang anak-anak seangkatan untuk mementaskan Ibnu Batutah. Di sini deh, puncaknya. Kesolidaritasan mereka benar-benar menusuk ke tulang. Dari rencana pementasan, belanja barang-barang yang diperlukan, latihan drama, sampai ke pementasan akhir... Top banget! Iringan musik juga terasa menggetarkan, menghidupkan pementasan mereka.

Kemudian, ending menunjukkan keenam sahabat ini berhasil mencapai cita-citanya. Alif, Raja, dan Atang bertemu di Trafalgar Square, London. Lalu menghubungi ketiga temannya di Indonesia.

Man Jadda Wajada :)


* * *

Inspirasional.

Menurut gue film ini cocok buat semua umur. Apalagi remaja, yang lagi galau-galaunya pengen masuk jurusan mana/kuliah di mana. Kita bisa tau gimana galaunya Alif, antara milih keputusan orangtuanya atau tetep keukeuh sama pendiriannya. Dan akhirnya, Alif milih ngikut orangtua. Kalo emang ga cocok, barulah si Alif ikut kemauannya (mungkin gue harus ikutin cara si Alif kali ya duuuh).

Terus, solidaritas keenam tokoh ini yang begitu erat. Persahabatan yang ga putus walau sudah merantau ke negeri orang. Tapi sayangnya, eksekusi ending agak kurang kali ya. Begitu saja dan terjadinya cepat. Tau-tau aja, udah di London dengan segala keberhasilan mereka.Tidak diceritakan gimana berhasilnya mereka. Uh oh, atau itu akan diceritakan di sekuelnya?


Tapi overall, filmnya oke kok. Jadi pengen nonton sekuelnya: Ranah 3 Warna.


Man Jadda Wajada!
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Follow

About me

What's Hot

You're The...

My Other Blog

  • My Seoul Escape - *Pengarang:* Sophie Febriyanti Penerbit: GagasMedia *Tahun:* 2008 *Tebal:* 260 halaman *Hidup Ayunda hancur lebur saat Cello, kekasih yang sangat dia...
    10 tahun yang lalu

Pages

Popular Posts

 

Template by BloggerCandy.com